Idola adalah cerminan angan, ia adalah cita seorang penggemar, ia adalah panutan, bahkan ia adalah yang dicintai. Ia adalah suatu sosok yang selalu kita ikuti kemanapun ia pergi, apa pun yang ia lakukan, dan apa yang ia inginkan. Ia-lah yang menuntun kita, bak seorang buta yang di tuntun oleh penuntunnya. Kita akan berusaha untuk menghadirkan ia dimanapun kita berada. Ia menjadi orang yang selalu kita banggakan, yang selalu kita tiru, dari mulai cara berpakaian, cara bergaul, dan semua yang ada padanya.
Itulah idola ! Ia tidak akan pernah kita lampaui, bahkan menyamai saja itu adalah hal yang sangat mustahil untuk kita lakukan. Tetapi kita akan selalu mengikuti jalannya. Ketika ia berbelok ke kiri, maka kita akan ikut ke kiri. Ketika ia berbelok ke kanan, maka kita pun akan ikut ke kanan. Begitu juga ketika ia meniti jalan kebenaran, maka kita pun akan berusaha sekuat tenaga untuk membuntutinya. Dan ketika ia meniti jalan kebathilan, maka kita pun akan berusaha sekuat tenaga untuk mengekorinya.
“Wahai Saudaraku mari kita scan diri kita ! Siapakah sosok yang kau ikuti ? Benarkah ia ? Apakah patut kita meneladaninya ?”
Di zaman yang katanya adalah zaman edan ini sudah barang umum, jika yang salah dianggap benar dan yang benar dianggap salah. Tapi itu tak masalah bagi kita hamba Allah yang selalu yakin akan keadilan-Nya dan bahwasanya di persidangan di akhirat kelak adalah sebenar-benarnya persidangan.
Sekarang ini banyak teman-teman dan saudara-saudara kita yang salah memilih idola. Mereka hanya berpikir dangkal. Tanpa pikir panjang, tanpa pikir baik buruknya. Mereka tidak peduli dengan akibat dari perbuatannya dalam memilih idola. Mereka hanya ikut-ikutan saja,”Yang penting gue gak di bilang jadul or gag gaul !” mungkin itu pikir mereka. Tapi bagaimana dengan kita. Apakah kita hanya ikut-ikutan saja? Apakah kita merasa takut untuk dikatakan jadul, gag gaul, gag trendy, de es te…????
Sekali-kali jangan !!!!
Perasaan seperti itu hanya akan menyusahkan kita saja. Perasaan seperti itu jugalah yang menyebabkan kita para pemuda generasi Islam hanya seperti sosok raksasa yang tertidur lelap. Perasaan itulah yang menyebabkan kita tak berani untuk menunjukkan siapa diri kita ini. Kita adalah seorang muslim! Kita harus berani menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi. Kita tidak boleh didekte oleh mereka orang-orang kafir. Kita harus dapat mengendalikan diri kita sendiri.
“Wahai Pejuang, perjuangan pertama yang harus kau tegakkan adalah melawan nafsu diri agar mampu bersabar dalam kebersamaan ! “
Seharusnya kita tidak menjadikan mereka yang bernyanyi di panggung atau yang dengan bangga memperlihatkan auratnya. Tahukah kau mereka itu siapa ? Mereka itu hanyalah orang-orang yang hanya memikir dunianya. Mereka tidak memikirkan bagaimana agar diri mereka bisa meraih prestasi di dunia maupun di akhirat kelak. Mereka sebenarnya sadar bahwa sebenarnya suatu saat mereka juga akan di panggil oleh Allah. Mereka sadar apa yang mereka lakukan itu salah. Tapi kenyataanya mereka hanya mengacuhkan hal itu. Mereka telah lalai untuk memegang janjinya-beribadah-kepada Allah sebelum ia dilahirkan di dunia ini. Maka tidaklah pantas apabila kita mengikuti jalan mereka, jalan yang tak jelas, jalan yang gelap tak tentu arahnya.
Kita tidak mungkin dapat mendahului idola kita, dalam hal apapun. So, jika kita bercita-cita menjadi seorang yang penuh dengan prestasi, kita haruslah mencari figur yang cocok untuk kita jadikan sebagai panutan. Dan figur itu haruslah sempurna, karena jika ia tak sempurna, bagaimana bisa kita menggapai cita ?
Dan sebagai seorang muslim, sudah seharusnyalah kita memilih tokoh idola itu juga seorang muslim. Apa jadinya kalau seorang muslim mengidolakan seorang Nashrani, Yahudi, atau mungkin Majusi. Saya yakin hidupnya pastilah kacau balau. Untuk itu, pilihan yang paling tepat untuk kita jadikan idola adalah Nabi Muhammad saw.. Dia lah idolanya para idola. Dia lah yang akan menjadi penghuni al wasilah. Tempat tertinggi di Jannatul Firdaus.
Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan bagaimana seharusnya kita hidup. Dia telah mengajarkan semua kebaikan. Dia mengajarkan kepada kita bagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan Allah Sang Khaliq.
Sudah sepatutnyalah kita meneladaninya. Bahkan Allah telah berfirman bahwa di dalam diri Muhammad terdapat suri taudalan yang baik. Jadi, kenapa kita harus ragu dengan menjadikan beliau sebagai idola kita. Kenapa kita ragu meniti jalan lurus yang telah di tempuhnya. Jalan yang terang lagi jelas arah dan tujuan darinya.
Beliau memiliki sifat shiddiq (benar/jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (informatif). Sifat yang merupakan sifat wajib bagi seorang nabi. Dan sifat itu kini dirujuk teori entrepreneurship modern.
Tak terbantahkan bahwa beliau adalah orang besar. Beliau seorang panglima, administrator militer yang tak ada bandingannya dalam sejarah. Sepuluh tahun di Madinah, sudah 30-an ghazwah beliau pimpin sendiri di samping 300-an sariyah yang beliau bentuk dan berangkatkan. Dari segi jumlahnya saja, Napoleon Bonaparte kebanggan Eropa, George Washington ataupun Simon Boliver-nya Amerika Latin tak ada yang dapat menandingi.
Beliau adalah pemimpin negara yang adil, seorang suami yang bijak, seorang negosiator brilliant, beliau juga adalah tetangga yang baik lagi menentramkan. Bentuk keagungannya berbeda dengan Kisra Persia dan Caesar Romawi. ‘Umar menangis menyaksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, alas yang membuat punggung beliau berbekas bilut. “Sungguh Ya Rasulallah, Kisra dan Caesar bertelekan di atas bantal dan permadani suteranya, pelayan pun hilir mudik menyediakan keperluannya, sementara kedudukanmu di sisi Allah jauh lebih mulia….” Keluh ‘Umar. Inilah salah satu keluhan yang kurang beliau sukai, tapi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia, beliau jelaskan pada sahabat yang selalu bersemangat ini, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab?”
Beliau memang seorang penguasa yang kekuasaannya tak kalah dengan Kisra dan Caesar. Bahkan jauh lebih baik di atas mereka. Yang beliau kuasai tak hanya wilayah, rakyat, dan tentara,….yang beliau taklukkan adalah hati, untuk diseru bersama dan berpadu mengesakan Allah, Ilah Yang Satu.
Beliau juga teman seperjuangan yang menyenangkan. Ketika tiba saat menyembelih domba dan yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya”, “Akulah yang akan memasaknya”, maka beliau akan segera mencari celah untuk berperan, misalnya berkata, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”
Beliau bisa mengayomi kaum yang lemah karena beliau merasakan penderitaan mereka. Tentu beliau juga bisa menyuruh orang kaya untuk berderma karena beliau pun melakukannya lebih dari mereka. Al Amin, gelar bukan sembarang gelar, gelar tak sekedar gelar…
“Muhammad itu utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat mereka daam Taurat dan sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanamannya kuat lalu menjadi bersabarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanaman-penanamnya karena Allah hendak membuat jengkel hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengajarkan amal shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath 29)
Setiap orang ingin menjadi yang terbaik. Itu adalah hal yang sangat wajar. Kita tak mungkin bisa menjadi sempurna. Tapi kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mendekati sempurna. Dan solusi satu-satunya hanyalah menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai idola, sebagai panutan dan teladan. Meneladani seorang yang tak ada bandingannya di antara manusia yang lain.
Mengidolakan seseorang berarti mencintai seseorang. Dan kata manusia mulia itu, “Kita akan bersama orang yang kita cintai.” Jadi siapapun yang kita cintai, kelak kita akan bersamanya. Oleh karena itu, wahai saudaraku mari kita hadirkan sosok Rasulullah saw. di hati kita, yang kita cintai lebih dari manusia lain yang terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Katakanlah dengan lisan dan hati, "Aku mencintaimu ya rasul, aku akan meniti jalan yang telah engkau tempuh. Aku akan membela risalah yang engkau bawa dengan perjuangan yang panjang nan rintang."
Senin, 31 Maret 2008
Senin, 03 Maret 2008
I Can Fly.........!!!!!??????
Di pagi hari yang cerah ku termenung
Hari ni adalah miladku yang ke 15.
Rasanya aku baru saja bermain bersama teman-teman SDku kemarin.
Rasanya aku baru saja duduk di bangku SDku yang reot dan hampir patah.
Rasanya aku baru saja mengenal teman-teman baruku di sekolah dasar dekat sawah yang sangat kumuh itu.
Aku tak mengira aku sekarang sudah tumbuh besar, dengan kekuatan yang besar, dan dengan tanggung jawab yang semakin besar pula.
Dengan itu semua....
Kini aku merasa aku bisa terbang
aku laksana seekor burung phoenix muda yang baru saja merasakan indahnya terbang
yah..... terbang.......
itulah sekarang yang kurasakan
aku dapat terbang bebas menuju langit nan luas tak terbatas.
aku akan terbang menuju sebuah cita.....
sekuat tenaga yang ku punya aku akan meraihnya........
(March, 3 2008)
Hari ni adalah miladku yang ke 15.
Rasanya aku baru saja bermain bersama teman-teman SDku kemarin.
Rasanya aku baru saja duduk di bangku SDku yang reot dan hampir patah.
Rasanya aku baru saja mengenal teman-teman baruku di sekolah dasar dekat sawah yang sangat kumuh itu.
Aku tak mengira aku sekarang sudah tumbuh besar, dengan kekuatan yang besar, dan dengan tanggung jawab yang semakin besar pula.
Dengan itu semua....
Kini aku merasa aku bisa terbang
aku laksana seekor burung phoenix muda yang baru saja merasakan indahnya terbang
yah..... terbang.......
itulah sekarang yang kurasakan
aku dapat terbang bebas menuju langit nan luas tak terbatas.
aku akan terbang menuju sebuah cita.....
sekuat tenaga yang ku punya aku akan meraihnya........
(March, 3 2008)
Langganan:
Komentar (Atom)






